Senin, 19 Januari 2009

ANTARA CINTA dan CITA-CITA

Suatu ketika, seorang teman lama yang lebih dari 20 tahun tak pernah berjumpa mengirim kan sebuah email, meminta sharing pengalaman untuk sebuah keputusan apakah akan menyekolahkan anaknya di sebuah SMP luar kota (boarding school ) sehingga harus berpisah ataukah..?

Maka, aku mencoba memberikan perspektifku..tepatnya kami (bersama istriku)

Sungguh anak adalah tumpuan cinta & cita, itulah sebabnya mereka demikian indah bak permata menghiasi hidup kita..

Ya, cinta & cita adalah dua kosakata yang tidak pada semua masa ia mampu bersatu, ketika cita-cita harus berarti berpisah sementara cinta tak hendak melepaskannya..

Barangkali, saat itulah kita harus mengeja tidak lagi dengan cara yang sama,tetapi mulai membaca dari episode terakhirnya agar jiwa tak lagi gundah menjalani skenarionya..
Ya, membalik urutannya adalah cara sederhana menyatukan cinta dengan cita-cita, tidak mudah memang dan tentu saja membutuhkan banyak ritual baru tuk membuktikan bahwa cinta tak pernah jeda..

Empat tahun yang lalu, sungguh masa-masa tersulit bagi UMAR IZZUL ISLAM, anak kami, bocah 10,5 tahun (ia terlalu cepat disekolahkan) untuk memahami bahwa kami sungguh mencintainya, tapi dengan mendeportasi dirinya sebagai bukti terbesar perasaan kami itu.. sesuatu yang perasaan kamipun harus tercabik-cabik dahulu untuk menjalankan logikanya..

Tentu saja narasi indah tentang cita-cita - tak kan pernah cukup untuk menutup sayatan perpisahan - bagi siapapun yang demikian butuh pelukan kasih sayang perlindungan dalam kelemahannya..

Maka kami rasa tidak ada lagi jalan yang lebih bijak daripada mengajarkan mereka satu tema, yaitu tentang indahnya perjuangan & kepahlawanan - agar mereka mampu menahan semua sayatan-sayatan itu dengan kebanggaan & keterhormatan..

Sungguh, kami terus berdo’a meminta kepada Allah swt, agar segera datang suatu masa dimana mereka sudah mulai bangga dengan luka, sebagai tanda mereka telah menjelma menjadi singa..

Saat itu, semua tangisan hanya memiliki satu arti, yaitu kecintaan, rasa sayang & kemanjaan, dan tidak lagi bermakna ketakutan, kelemahan atau kecengengan..karena telah sempurna bingkainya

Maka momentum inilah yang kemudian harus benar-benar kita jaga dengan ritual-ritual sentuhan cinta yang baru, yang tak merobohkan kerangka psikologisnya..

Ritual itu adalah siraman lebat ungkapan cinta, pujian & kata-kata indah tentang betapa mulianya mereka, betapa bangganya kami ditakdirkan menjadi orangtuanya..bla.. bla..bla.. dan tidak lagi harus tanpa derai airmata..

Maka aneh, tak terasa semakin lama kitapun merasa semakin tegar tanpa kehilangan romantisme perasaan cinta sebagai ayah bundanya, hanya saja ia tampil dalam bentuknya yang lebih gagah..

Saya rasa, situasi inilah yang justru menjadi pelajaran & tempaan terbaik bagi jiwa, karakter & kepribadian mereka..bukan pada pelajaran akademis yang akan menjadi konsumsi otak dan teori-teori moral yang dikhotbahkan di kelas-kelas mereka..karena memang benar sasarannya berbeda, ilmu pengetahuan akan menajamkan logika dan memperkaya khazanah serta rencana kontribusi hidup mereka tapi bukankah lebih sempurna jika kita melengkapi dan merekayasa pula kekuatan kepribadian & karakter mereka untuk mampu mewujudkannya..

Saya kemudian mencoba untuk memilih, pada titik mana, sebuah rekayasa penempaan karakter paling efektif dan sekaligus aman untuk dijalankan..

Maka kamipun memilih pada masa SMP mereka, dengan logika bodoh seperti biasa, bahwa kalaupun gagal kami masih punya cukup waktu 3 tahun berikutnya – masa SMA – untuk melakukan recovery & meluruskan segala ekses psikologis & mentality yang terjadi jika proses tidak berjalan sempurna disana..

Maka, menarik kembali mereka pada masa SMA adalah postulat & perjanjian resmi yang kami buat bersama mereka..

Ini sekedar sharing ttg eksperimen ngawur pendidikan 2 orang anak kami, siapa tahu ada banyak usulan untuk ekperimen berikutnya, ada 4 orang anak lagi neh..!!

3 komentar:

Bang Irwan mengatakan...

1. Selamat atas blog barunya tadz! Semoga inspirasi, arahan, maupun taujihat tak harus menunggu sepekan untuk mendapatkannya. Itu juga kalo gak telat datang... hehehehe...(kebiasaan)

2. Semoga blog ini dapat menjadi sumber mata air bagi para aktivis pergerakan yang telah berjanji pada dirinya untuk meraih takdir kepahlawanannya. Sebab jalan panjang dan terjal itu telah menggerus motivasi untuk bergerak, meski hanya sejengkal demi sejengkal...

3. Ijinkan kami menimba ilmu dari sini. Sebaba ketajaman mata hati yang berbeda akan melahirkan kedalaman makna yang berbeda pula. Dan kami yakin, bahwa dengan bergurulah, hikmah itu dapat tersingkap dengan indah...

Anonim mengatakan...

Dani Jember,
Kami tunggu taujih2 nya Bang..
Ana juga masih ada Muhammad Yafi Az-Zuhdi dan Muhammad Nadhif Nabhani. Calon2 pejuang... Insya Allah

Anonim mengatakan...

Mas Jarwo ngomong nih,
Jakallah, atas taujihnya semoga menambah spirit perjuangan kita hingga meraih kemenangan