Senin, 26 Januari 2009

MERENUNG

Merenung adalah aktifitas berpikir mendalam (deep thinking), yang sungguh berbeda dengan melamun & termenung. Perbedaan besarnya adalah pada aspek kesadaran.

Melamun & termenung adalah gambaran tentang kondisi hanyutnya sebuah pikiran, tentu saja ia kehilangan efektifitasnya karena memang sedang out of control.. walaupun kondisi out of control ini selalu ada saja penggemar & penikmatnya di dunia ini.

Berbeda dengan keduanya, merenung adalah aktifitas berpikir mendalam dengan penuh kesadaran (deep thinking) dan ia adalah tradisi semua orang-orang besar..

Kebanyakan dari kita mungkin telah terbiasa berpikir evaluatif atas peristiwa masa lalu untuk menarik hikmah & pelajaran, tetapi saya mengusulkan agar kita juga membuat sebuah ritual untuk perenungan yang lebih bersifat kontapelatif..

Bukan menganalisa peristiwa tetapi sebuah ritual untuk mempertanyakan ulang semua hubungan-hubungan yang kita lakukan..
Yaitu mempertanyakan kembali dalam ruang kesadaran kita, hubungan kita dengan Sang Pencipta, hubungan kita dengan orang tua, hubungan kita dengan istri /suami, hubungan dengan anak-anak...hubungan kita dengan pekerjaan, dengan masyarakat, negara...dsb

Dengan mempertanyakan ulang semua hubungan yang ada maka akan lahir sebuah kesadaran baru tentang hakekat keberadaan mereka semua... dalam kehidupan kita.

Tuhan kita tentu saja adalah tuhan yang lama dan istri kita pun adalah istri yang lama, tapi kita akan memandangnya dengan kesadaran-kesadaran yang baru...

Setiap kali saya melakukan ritual perenungan itu, antara pk.08.00 - 09.30 di sudut favorit ruang kerja saya, dengan pencahayaan yang agak redup, dalam keheningan itu.. maka seolah kehidupan ini, baru kembali dihadirkan.. maka tiba-tiba, dorongan untuk menyapa istri dan mengungkapkan kata-kata cinta " I Love You.." dengan nada seperti pengantin baru selalu menjadi kejutan indah... ya, kesadaran cinta yang baru..

Tentu saja, komitmen-komitmen hubungan yang tampak baru itu..menguat kembali seperti diawal-awal semangatnya, optimisme kembali menyeruak, hati pun bening, logika telah jernih, jiwa kan kuat menggelora..

Kesadaran-kesadaran baru atas hubungan-hubungan yang ada pun akan menguak cakrawala kita untuk menemukan hakekat peristiwa dengan seluruh benang merahnya atau sekedar ide-ide dan gagasan luarbiasa.. yang tampak sederhana di awalnya.

Ya benar sahabatku, perubahan dan kebangkitan yang akan selalu menjadi buahnya..

Saya rasa, setiap muslim yang baik, semua aktifis yang bersemangat dan para pemilik obsesi-obsesi besar perlu ritual ini.. yang telah menjadi tradisi seluruh orang-orang besar..

2 komentar:

Bang Irwan mengatakan...

Tradisi merenung memang tradisi orang2 BESAR. Oleh karena itu memulai dan konsisten dg tradisi ini juga membutuhkan kemauan yang BESAR. Sebab disepanjang jalan perjuangan orang2 besar itu selalu hadir tantangan yang juga BESAR...

Tantangan terBESAR untuk konsisten dalam 'merenung' adalah bagaimana memastikan agar merenung itu tidak berakhir dengan "do'a menjelang tidur". Bagian sulitnya adalah bagaimana memastikan agar mata yang terpejam tidak benar2 tertutup. Bagaimana agar merenung itu tidak berakhir dengan mimpi indah, alias TIDUR..hahahahha...(kebiasaan sih...)

djogjess mengatakan...

Weleh.., kalah duluan sama bang Irwan.

Selain kemauan BESAR, komitmen BESAR, konsistensi, untuk mampu merenung juga diperlukan pendahuluannya: ilmu. Ilmu tentang Tuhan, saya, keluarga, pasangan, .....lll (lan liyo-liyane). Untuk merenung tentang hubungan saya dengan Tuhan maka sebelumnya kita harus memiliki ilmu tentang saya dan Tuhan. Siapa saya siapa Tuhan. Supaya tidak ketukar-tukar.

Itulah kenapa lebih sedikit orang yang bisa merenung ketimbang termenung. Termenung gak pake modal, gak perlu kemauan, komitmen, juga gak usah pake ilmu. Cukup sedikit keinginan ditambah khayalan, dan kadang-kadang dicampur dengan penyesalan... jadilah termenung dan melamun.